Press "Enter" to skip to content

Ide Buruk: Full-Time Traveler dan Berhenti Bekerja

Jutaan “penghuni kubikel” di belahan dunia bermimpi tuk traveling. Mereka harap suatu saat dapat menabung cukup banyak tuk mengatakan selamat berpisah pada pekerjaan kantoran, lalu akhirnya mengawali hidup baru tuk lihat setiap hal yang ada di dunia. Bila kamu satu diantara mereka, bersyukurlah, sebab mulai sekarang kamu bakal merasa lebih bahagia dan mungkin terinspirasi. Hampir tiap hari kita disajikan berbagai konten di blog seseorang, atau status update media sosial, bahkan seorang teman berkisah tentang betapa asyiknya kehidupan full-time traveler. Cerita mereka kerapkali diiringi saran “berhenti kerja kantoran dan mulai bepergian!”. Seluruh ‘serangan’ itu menjadikan kamu berpikir, seandainya saya bisa melakukannya!

Nggak semua saran dari orang lain baik untukmu, dan (tak bermaksud menyinggung full-time traveler) saran tuk berhenti kerja demi keliling dunia merupakan saran terburuk yang bisa kamu terima. Nyatanya, gak semua orang mau berhenti kerja, menjual seluruh harta benda, lalu pergi melanglang buana tidak tahu kapan pulang. Bahkan, beberapa travel-blogger terkenal gak berniat menjadi full-time traveler, untuk banyak alasan.

Berikut sejumlah alasan yang membuat mereka tidak memilih berhenti dari pekerjaan tuk hidup nomaden:

Uang Bukan Segalanya Tapi Itu Penting

Kita butuh uang. Bahkan uang yang memungkinkan kita menginjakkan kaki di gunung berkabut China, menyusuri jalanan yang disesaki bangunan klasik Eropa, maupun menikmati keindahan alam di pedalaman daerah Nusa Tenggara Timur. Faktanya, jika kamu sangat menyukai traveling, kamu tidak harus terus-terusan menjalaninya dan berhenti mendapat penghasilan tetap dari pekerjaan yang mapan. Uang gak jatuh dari langit. Pekerjaan freelance memang opsi, tetapi sama sekali gak bisa diandalkan.

Punya Rumah Untuk Pulang

Mungkin ribuan kali mendengar sesuatu seperti, kita cuma hidup sekali; kalo gak sekarang ya kapan lagi? Kita memiliki keluarga yang amat berharga melebihi apapun. Seharusnya kita menghabiskan banyak waktu buat mereka. Terlebih bila orangtua kita sudah menua, bukankah semestinya kita berada di sisi mereka? Emang, generasi milenial di rentangan usia 20-an biasanya lagi ada di fase “all about me.” Tetapi cepat atau lambat, kamu pasti menyadari bahwa dunia tidak berputar di sekelilingmu.

Banyak Waktu Keliling Dunia

“Kalau tak resign, saya gak punya waktu keliling dunia.” Wah, kamu salah kalo berpikir demikian. Coba Googling, ada banyak cara supaya tetap bisa mendapatkan gaji rutin setiap bulan, meskipun kamu suka traveling berminggu-minggu. Bahkan blogger Elaine dan Dave masih bekerja kantoran dengan full time, dan tetap bisa mengeksplor 18 negara pada satu tahun, dalam perjalanan kira-kira 2 bulan (totalbya). Kamu punya banyak waktu. Terdapat 104 weekend didalam setahun. Ada libur nasional. cuti tahunan. So! walaupun kamu full-time kerja, kamu selalu memiliki waktu buat traveling.

Traveling di Masa Muda Bepotensi Membuat Diri Kesepian

Sebaiknya kamu melupakan resolusi ‘habiskan usia 20-an tuk traveling keliling dunia’ deh secepatnya. Ada teori yang bilang bahwa masa muda (dewasa muda) ialah waktu dimana seseorang mulai melakukan pengembangan hubungan jangka panjang yang kental, dan masanya belajar mendekatkan diri dari sisi emosional bersama pasangan, keluarga juga teman. Para full-time travelers tentunya bertemu dengan orang-orang yang amat menarik dan hebat selama perjalanan. Tetapi dengan gaya hidup nomadik, bakal susah mengembangkan hubungan lebih dekat kepada mereka.

Kerja Freelance Sambil Traveling? Pikir Lagi Deh

Saat ini, menjamurnya startup di dunia termasuk Indonesia, kamu bisa lebih gampang memperoleh pekerjaan freelance, entah menjadi penulis, desainer ataupun programmer. Akan tetapi bergerak secara remote (apalagi di lokasi terpencil dan di negri orang) gak semudah yang kamu pikirkan. Kehidupan seperti itu gak semanis yang kamu bayangkan.

Saat Ada Masalah Full-Time Traveling Bukanlah Jawabannya

Jika kamu tak bahagia di kehidupan sehari-hari, kemungkinan kamu juga takkan bahagia pada kehidupan menjadi full-time traveler. Bepergian tak menyelesaikan masalah dengan instan. Bila hubungan cintamu buruk, maka hubungan itu akan tetap buruk meskipun kalian terpisah 20.000 km jauhnya. Bila kamu sulit punya pacar, maka janganlah menaruh harapan kepada traveling tuk menemukan seseorang. Jangan mau terperangkap dalam, katakan saja, Eat Pray Love Syndrome?

Traveling=Spesial

Sesekali tersasar di kanal-kanal Venezia, coba gaya hidup seperti suku pedalaman di Flores, menikmati dinginnya salju sambil mandi di onsen, atau bersusah-payah menaklukkan atas puncak Kilimanjaro bakal menyenangkan bila dilakukan… tidak setiap hari. Kenyataannya, jika kamu mengerjakan sesuatu setiap hari, maka hal itu bakal menjadi rutinitas. Disarankan kamu tetap mengatur traveling menjadi sesuatu spesial, sesuatu yang dinanti tuk membantumu menghempaskan diri sejenak dari aktivitas yang membosankan. Traveling semestinya menjadi sesuatu yang dapat membuatmu berenergi, bukan menyedot habis energimu. Bukankah mengasyikan saat kamu merasa sebagaimana ada ratusan kupu-kupu beterbangan didalam perut, saat menunggu waktu perjalanan selanjutnya tiba?

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.